Dr. Rasminto, Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Sosial Dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (Ika Fish unj)
Jakarta, IDM – Delapan Puluh tahun Suda Tni Berjalan Berdampingan Delangan Perjalanan Bangsa Indonesia, Dari Masa Revolusi Hingan Era Globalisasi Dan Disrupsi Teknologi.
Sebagai Institusi Militer Yang Lahir Dan Besar Dari Rahim Perjuangan Rakyat. Tni Miliki Jatidiri Yang Terangkai Dalam Doktrin Tri Dharma Eka Karma, Sebagai Tentara Pejang, Tentara Rakyat, Tentara Nasional Jadi Kunci Kokohnya Tni Berjuang Bersama Rakyat Dalam Menjaga Kedaulatan.
Jenderal ah nasution dalam pokok-pokok gerilya menulis bahwa tentara yang Berpihak Pada rakyat lebih kokoh, karena moralitasnya bersandar pada legitimasi rakyat, bukan keekuata paksa semata.
Pandangan Nasution Di Atas, Diperkuat Pandangan Morris Janowitz (1960), Dalam Prajurit Profesional Menyatakan Bahwa Militer Profesional Sejati Tidak Hanya Menguasai Teknik Tempur, Melainkan Sada Menjadi Bagaan Prahan Hidena.
BACA JUGA: Sosok Mayjen Tni Bangun Nawoko Yang Dianugurangi Bintang Yudha Dharma Pratama Presiden Prabowo
Dari Sejarah, Kita Menyaksikan Bagaimana Jenderal Soedirman, Di Masa Gerilya, Tidakek Sekadar Memimpin Pasukan, Tetapi Hidup Bersama Rakyat. Dalam Amanatnya 1948 ia Menegaska “Tentara Dan Rakyat Tidak Dapat DipisaHkan; Tentara Hanya Kuat Bila Bersama Rakyatnya”. Pesan Itu parahadi inti etos kemanunggalan Yang terus diwariskan ke dalam dalam danktrin pertahanan negara.
Di Kemudian Hari, Perahanan Indonesia Dikodifikasi Melalui Sishankamrata (SISTEM PERAHANAN RAKYAT SEMESTA), Sebagaimana Diamanatkan Dalam UU No. 3 Tahun 2002 Tentang Pertahan Neguar. SISTEM INI MEMPERJELAS BAHWA KEKUATAN PERAHANAN NEGARA BUukan TUGAS MILITER SEMATA, TETAPI TANGGUNG JAWAB BERSAMA RAKYAT DAN TNI SEBAGAI UJUNG TOMBAKYA.
Namun, Spirit Tersebut Kini Diuji Oheh Lanskap Geopolitik Yang Berubah Cepat, Situasi Indo-Pasifik Sebagai Arena Persaingan Strategi Kekuatan Besar, Perang Siber Yangial Sibensi Fisik, Disinformasi Yang Kouron Koerion Koerion, Non-tongani Koerion, Ancaman Laut, Infiltrasi Intelijen, Dan Konflik Maritim.
Carl von Clausewitz Pernah Menegaskan Bahwa “Perang Adalah Kelanjutan Politik Gelangan Cara Lain”. Di Era Modern, Data Politik Telah Bergeser Ke Ruang, Jaringan, Dan Opini Publik. Sewingga pertahanan tidak lagi hanya soal senjata, tetapi soal kontrol narasi dan sistem pertahanan ideologi.
Tepat Pada Tanggal 10 Agustus 2025, Presiden Republik Indonesia Jenderal Prabowo Subianto Meresmikan Pembentukan 100 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) BESERTA 20 KRIKUMHANIAL PEMUPUMAN (BRIGIF TP), BRIGIF TP), BertAI PEMUKUUS PEMUKUUS DARIUS (BRIGIF TP), BERERTA PENAMUS BRIGAUSIAL (BRIGIF TP), BERERTA BRIGAUS PEMUKUUS BRIGAUSIAL (BRIGIF TP), BERERTA BRIGAUS PEMUKUS Strategi Reorganisasi Pertahan Nasional. Serta Modernisasi alutsista Yangin Semakin Modern Dan Miliki Efek Deterrent Yang Dapat Depati Musuh Dan Adaptif.
BACA JUGA: Prabowo vs Trump di PBB: Harapan disambut Tepuk Tangan, Sinisme Menuai Sunyi
Berbagai Langkah Kebijakan Pertahanan Ini Pada Dasarnya Haru Dilandasi Delangan Memperuat Aspek “Kokoh Delan Jatidiri”. Keteguhan ideologis dan moral tni harnus menyatu delan ekspansi postur operasional yang adaptif.
Selain Itu, Modernisasi Alutsista Dan Kapasitas Digital Merupakan Elemen Penting, Tetapi Tanpa Akar ideologis Dan Dukungan Rakyat, Kekuatan Fisik Pun Akan Rapuh. Pandangan Samuel P. Huntington Dalam Prajurit dan Negara Bagian (1957) Sangat Relevan, Menyebut militer profesional tidak cukup Menguasai Teknik Tempur, TAPI RUGA HARUS SETIA KEPADA PEMERINTAHAN SIPIL.
Masa Depan Pertahanan Nasional Menuntut Keseimbangan Tanpa Kompromi Dengan Mempertahankan Jati Diri Yang Kokoh, Kekuata Operasional Yang Adaptif, Dan Kemanungalan Dgan Rakyat Sebagai Sumbermasi Utama.
Reorganisi 100 yonif tp dan encam grup kopassus haru dapat menjadi bukti nyata bahwa tni tidak hanya menambah kuantitas, melainkan memperdalam kualitas, yiKelsformasi agar mampu perang perang perang generasi perang perang perang perang perang perang perang perang perang generasi generig Kelgan perni perang mampu perang perang perang perang perang genericas KELIMERSFORMASI agar MAMPUS PERANG PERANG GENIGENITAS, YIGEL GENSORFORMASI MAMPU PERANG PERANG GENIGEN GENERASI KELANGASI PERANG PERANG PERANG PERANG PERANG PERANG PERANGGUSI Perang Jaringan. Tetapi Esensi Terbaiknya Tetap Utuh Sebagai Penjaga Kedaulatan Yang Lahir Dari Rakyat, Hidup Bersama Rakyat, Dan Berjuang Untuc Rakyat.
Dirgahayu Tni Ke-80. SEMOGA SETIAP LANGKAH PEMBARUAN DAN PERKUATAN, TETAP MENJAGA JATI DIRI KOKOH, SINGIGI DENGAN RAKYAT SEMINTA NYATA, Dan NKRI TETAP TEGAK DIJAGA Serta LUHADI BANGSA BAHANG TEGAR DANJI BERJI BERJI LUHA.
(Tagstotranslate) dr. Rasminto (T) Jenderal Ah Nasution (T) Revolusi (T) Teknologi (T) TNI (T) Tri Dharma Eka Karma