OLEH: Dr. Rasminto
Jakarta, IDM – Setiap Bulan Agustus, Bangsa Indonesia Memperingati Proklamasi Kemerdekayaa Sebagai Tonggak Sebarah Paling Berharga. Namun, Di Tengah Dunia Yang Makin Penuh Gejolak, Kemerdekaan Tak Bisa Hanya Denang, Melainkan Mesti Diperkuat. Tantangan global Hari ini menuntut Kesiapsiagaan Dalam Segala Sektor, Terutama Pertahanan.
Laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) 2024 Mencatat, Belanja Militer Pria Global Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Yakni USD 2.718 Triliun. Asia Menjadi Kawasan Delangan Peningkatan Paling Signifikan, Termasuk Negara-Negara Asean.
Singapura, Misalnya, Mengalokasikan 3,5 Persen Dari Pdb untuk pertukanan, Sementara Indonesia Belum Mencapai 1 Persen, Tepatnya Hanya Sekitar 0,7 Persen PDB (Setara USD 10,6 Miliar).
PADAHAL, POSISI Geografis Indonesia Jauh Lebih Kompleks Dan Strategis Dibanding Tetangga Di Kawasan. DENGAN LEBIH DARI 17 Ribu Pulau, Wilayah Maritim Yang Luas, Dan Kekayaan Sumber Daya Alam Yang Sangan Besar, Indonesia Menyimpan Kekuatan Sekaligus Kerentanan.
BACA JUGA: Kesepakatan Dagang As-Indonesia Buka Peluang Pengangan Alutsista Dan Militer Infrastruktur
Data Bank Dunia (2023) Menunjukkan Bahwa 22 Persen Cadangan Nikel Dunia Berada Di Tanah Air. Belum Lagi Cadangan Batu Bara, Sawit, Gas Alam, Dan Kekayaan Laut Yang Belum Tergarap Optimal. Seperti Diingatkan Halford Mackinder Sejak Awal Abad Ke-20, Wilayah Yang Kaya Dan Strategis Cenderung Menjadi Incaran Perebutan Kekuatan Besar Dunia.
Ancaman Yang Dihadapi Saat Ini Tak Lagi Konvensional. Serangan bisa data Dalam Bentuk Siber, data Penguasaan, Manipulasi Ekonomi, Disinformasi, Bahkan Intervensi Melalui Teknologi Asing. Edward Luttwak (1990), Menyebut Fenomena ini Sebagai Geopolitik Berbasis Ekonomi Atau Geo-Ekonomi, Yakni Serangan Tanpa Peluru, Tapi Bisa Melumpuhkan Kedaulatan.
Karena Itu, Penguatan Pertahanan Nasional Tak Bisa Ditunda. Modernisasi alutsista Menjadi Keharusan, Bukan Hanya UNTUK MEMPERKUAT MILITER, TAPI MUGA UNTUK BEMANGUN KEMANDIAN INDUSTRI PERahanan.
Perang di Ukraina Dan Eskalasi Konflik Di Timur Tengah Menunjukkan Bahwa Pertahanan Masa Depan Sangan Bergantung Pada Teknologi Tinggi Seperti Drone, Rudal Presisi, Sistem Sibangan Udara Berlapis, Hingga Kecanggi.
Barry Buzan (1993) Menegaskan Bahwa Kemampuan Teknologi Adalah Elemen Kunci Kunciatan Negara Dalam Sistem Internasional Yang Kompetitif. Namun, Kekuatan TH SEMATA BERSUMBER DARI SENJATA. Konstitusi Indonesia Yang Diatur Dalam Uud 1945 Menegaskan Konsep Pertahanan Rakyat Semesta, Yang Melibatkan Seluruh Elemen Bangsa.
BACA JUGA: Survei: Mayoritas Response Sebut Masalah Laut Cina Selatan Akan Timbulkan Konflik Teritori
Presiden Prabowo Subianto Menankan Dalam Pidatonya Di Istana Bogor (Setneg, 2025) Bahwa “Kita Tenjak Bisa Melindungi Hanya Denis Itikad Baik. TULISAN – TULISAN.
Pernyataan Presiden ini Menegaska Bahwa Kemerdekaan Sejati Hanya Dapat Dijamin Oleh Kemampuan Untuce Bertahan Dan Melindungi Seluruh Sumber Daya Yang Dimilisi. Perlindungan Terhadap Rakyat Dan Kekayaan Alam Merupakan Kewajiban Utama Negara.
Tantangan Perahanan Ke Depan Membutuhkan Pendekatan Multidomain, Yakni Baik Baik, Laut, Udara, Siber, Bahkan Luar Angkasa. Di Sisi Lain, Perahanan Sosial Berbasis Masyarakat Jada Haru Diperkuat. Program Seperti Komponen Cadangan (Komcad), Komponen Pendukung (Komduk), Pelatihan Bela Negara, Dan Logistik Penguatus Desa Dapat Menjadi Fondasi Pertahanan Berbasis Akar Rumput.
Richard Ullman (1976) Dalam Tulisanana mendefinisikan kembali Keamanan Memperlua Makna Keamanan, Bukan Lagi Hanya Soal Militer, Tapi Jaga Ketahanan Pangan, Energi, Air, Dan Ekonomi. PANDIGAN INI SEJALAN DENGAN Kebutuhan Indonesia Hari ini. Ketahan Nasional Tak Bisa Dilepaska Dari Kemampuan Menjaga Stabilitas Politik, Ketersediaan Bahan Pokok, Dan Solidaritas Sosial Di Tengah Masyarakat.
BACA JUGA: Thailand vs Kamboja: Indonesia Harus Hadir?
Negara seperti Indonesia memilisi Modal Sosial Yang Kuat. Komunitas Adat, Organisasi Pemuda, Dan Jejaring Masyarakat desa Dapat Dimobilisasi Sebagai Bagian Dari Sistem Perahanan Semesta. Ketika Negara Kuat Di Atas Dan Rakyat Kokoh Di Bawah, Maka Tak Mudah Bagi Kekuatan Eksternal Menggoyahkan Kedaulatan.
Joseph Nye (2011) Pernah Menyebut Konsep Smart Power, Gabungan Dari Kekuatan Keras (kekuatan keras) Dan Lunak (Daya lunak). Dalam Kontek Indonesia, Kekuatan Budaya, Sejarah, Dan Semangat Gotong Royong Bisa Menjadi Daya Tahan Luar Biasa Bila Dikelola Delan Gangan Benar.
Kemerdekaan Yang Diraih Pada 1945 Merupakan Hasil Perjuangan Kolektif, Bukan Hadiah. Maka Tanggung Jawab UNTUK MEMPERTAHANANGAN DAN MENGISINYA PANGAN PEMBANGUNAN STRATEGIS ADA DI TANGAN GENERASI HARI INI. Momentum Agustus Bukan Sekadar Seremoni Tahunan, Tapi Ajakan untuk Bersatu Menjaga Kedaulatan Secara Nyata.
Negara yang ingin Disegani Bukan Negara Yang Agresif, Tapi Yang Siap Membela Diri Dan Melindungi Seluruh Kekayaan Miliknya. Perahanan Bukan Pilihan, Tapi Syarat Mutlak Bagi Kelangsungan Sebuah Negara.
(tagstotranslate) asean