Jakarta, IDM – Imbas Dari Pecahnya Konflik Antara Pakistan Dan India Salah Satunya Adalah Berhasil Dilumpuhkanya Jet Tempur Rafale Buatan Prancis Milik India Oheh Jet Tempur J-10C Buatan Cina Milik Pakistan.
Pengamat Militer, Khairul Fahmi Menyebut Perlu Mencermatinya Secara Objektif Dan Tidak Terburu-Buru Menyimpulkan Apakah Rafale Inferior Atau Tidak Layak. Ini, Katananya, Bukan Sekadar Soal Pesawat Mana Yang Lebih Unggul, Tetapi Persoalan Yang Jauh Lebih Kompleks.
“Ada Sejumlah Hal Yang Perlu Digarisbawahi Sebelum Menarik Kesimpulan, Apalagi Dalam Kontek Indonesia Yang Telah Memesan 42 Unit Rafale Dari Prancis,” Ujarnya Kepada Redaksi, Selasa (13/5).
BACA JUGA: Pengamat Militer Sebut Wacana Jabatan Wakil Panglima Tni Bukan Sekadar Penataan Struktur
Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) INI Mengatakan, KEMENIGAN ATAU KEKALahan Dalam Pertempuran Udara Tidak Serta-Merta Menunjukkan Keulangulan Atau Kelemahan Absolut Sebuah Platform.
“Faktor Banyak Yang Menentukan Hasil Konfrontasi Udara: Pilot Kemampuan, Sistem Sistem Dan Radar Pendukung, Integrasi Sistem Tempur Operasional, ”Terang Fahmi.
Dalam Insiden ini, misalnya, Bisa Saja Pakistan Memiliki Keulangulan Situasi Karena Bertahan Di Wilayah Udarananya Sendiri, Atau Karena Memilisi Dukungan Intelijen Dan Radar Yang Lebih Baik Dalam Momen Terkbut.
Kedua, Lanjut Fahmi, J-10C Dan Rafale Memiliki Keunggulan Yang Berbeda. J-10C Denkenal Sebagai Pesawat Generasi 4.5 Yang Mengandalkan Radar Aesa, Rudal PL-10 Pencitraan Pencari Inframerah (IRST), Dan Rudal Udara-Ke-Udara (AAM) PL-15.
Sementara Rafale Unggul Dalam Kemampuan Multirole, Manuverabilitas Tinggi, Avionik Canggih, Dan Integrasi Sistem Peperangan Elektronik.
BACA JUGA: ISU Pangkalan Rusia: Pemilu Australia Dan Distorsi Yang Meninggung Indonesia
“Jadi, Ketika Rafale Tertembak Jatuh, ITU TIDAK OTOMATIS BERARTI PESAWAT TEBUT“ Kalah Kelas ”, Melainkan Bisa Jadi Karena Keinjulan Taktis Atau Momen Spesifik Yang Dieksploiter Doman.
Ketiga, Setiap Insiden Semacam ini jagA sering menjadi ajang glorifikasi atuu pembuktian bagi produsen dan pemasar alutsista. Dalam Industri Pertahanan Global Yang Sangan Kompetitif, Kebohasilan di Medan Tempur Kerap Dimanfaatkan Sebagai Bukti Superioritas Produk. Jadi, Baik Produsen J-10C Maupun Rafale Pasti Akan Memanfaatkan Narasi Yang Menguntungkan Untukur Kepentingan Pemasaran Global Mereka.
Keempat, Kita Haru An Ingat Bahwa Setiap Pembelian Alutsista Bukan Hanya Soal Performa Teknis Saja. Keutusan Strategis Seperti Ini Mempertimbangkangkan Banyak Hal: Transfer Teknologi, Jaminan Logistik, Interoperabilitas, Kentinginga, Kepentingan, KEKUATAN UDARA JANGKA PANJANG, ”Terang Fahmi.
Menurut Fahmi, Rafale Dipilih karena Kemampuanyaah Yang Sudaah Teruji Di Berbagai Konflik, Tawaran Paket Kerja Sama Industri Dan Relasi Strategi Berkelanjutan Yang Cukup Menarik Bagi Indonesia.
BACA JUGA: Diplomasi Dan Kedaulatan Di Laut China Selatan
“Kita Tenjak Bisa Mengevaluasi Pembelian Hanya Karena Satu Insiden Tempur,” Katanya.
Jadi, Sambung Fahmi, insiden ini justru menjadi pelajaran yang berpusat pada Dicermati, tapi tidak perlu dijadikan dasar untuk meragukan meragukan akuisisi rafale eh indonesia. Yang Jauh Lebih Penting Justru Bagaimana Indonesia Mempersiapkan Seluruh Ekosistem Operasional Dan Pendukungnya.
“Misalnya Fasilitas Pemeliharaan, Pilot Pelatihan, Integrasi Sistem C4ISR, Penganganatan Perahanan Udara, Serta Simulasi-Simulasi Taktik Tempur,” Kata Fahmi. (NHN)
(Tagstotranslate) India-Pakistan (T) Jet Tempur J-10C (T) Jet Tempur Rafale (T) Khairul Fahmi (T) Prancis