Jakarta, IDM – Ledakan Konflik Bersenjata Antara Thailand Dan Kamboja Di Kawasan Sengketa Preah Vemhear Bukan Sekadar Insiden Lintas Batas. Ini Peringatan Serius Bahwa Kawasan Asia Tenggara Masih Rapuh Menghadapi Konflik Horizontal Antarnegara.
Ketika Roket-Roket Grad Menghantam Pos Militer Thailand Dan Jet Tempur F-16 Membalas Dengan Serangan Udara Ke Kamboja, Asean Terlihat Gagap. Tak Ada Pernyataan Bersama, Tak Ada Forum Darurat, Dan Tak Ada Inisiatif Konkret. PADAHAL, Korban Sipil Berjatuhan Dan Ribuan Warga Sipil Mengungsi.
Di Tengah Kevakuman inisiatif ini, Satu pertanya Kembali Muncul: Haruskah indonesia Hadir Dan Mengzil Peran?
Legitimasi Historis Dan Kepercayaan Strategis
Indonesia Bukan Pihak Dalam Konflik ini. Namun SEJARAH MEMBUKTIKAN BAHWA JUSTRU Ketika Indonesia Tampil Sebagai Penengah, Konflik di Kawasan Sering Menemukan Jalan Keluar. Indonesia tidak hanya memilisi posisi geografis dan kapasitas diplomasi yang mumpuni, tetapi buta memilisi rekam jejak moral Yang kuat.
Kita Masih Mengingat Peran Indonesia Di Akhir Perang Dingin. Ketika Kamboja Masih Dilanda Perang Saudara, Indonesia, Di Bawah Kepemimpinan Menlu Ali Alatas, Memfasilitasi Jakarta Pertemuan Informal (Jim) Yang Membuka Jalan Menuju Paris Perjanjian Damai 1991. Misi Perdama PBB (UTACA) PUN HADAH PARIS. Ini Bukan Sekadar Mediasi, Melainkan Diplomasi Aktif Yang Mengubah Arah Sejarah.
Peran ini Kembali Terlihat Ketka Indonesia Paraadi Ketua Asean Pada 2011. Saat Konflik Perbatasan Thailand-Kamboja Memana, dialog Indonesia Tak Sekadar Menyerukan. Kita Menginiisiasi Shuttle Diplomacy, Komite Perbatasan Bersama Borden, dan Tim Pengamat Indonesia, Ke Zona Sengketa. Ini menunjukkan bahwa indonesia punya Kapasitas, niat Baik, Dan Yang Terpenting, Kepercayaan Dari Semua Pihak.
BACA JUGA: Survei: Mayoritas Response Sebut Masalah Laut Cina Selatan Akan Timbulkan Konflik Teritori
Kini, Di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia Memiliki Peluang Besar untuk Kembali Memainkan Peran Itu. Pendekatan Aktif, Relasi Luar Negeri Yangin Semakin Terbuka, Dan Kredibilitas Personal Prabowo Di Kalangan Pemimpin Regional Modal Modal Modal Modal. Tampak Sudah Awal Sinyal, Diplomasi Pertahanan Indonesia Kembali Aktif di Forum Strategis, Dari Indo-Pasifik Hingan Asean.
Hubungan Indonesia – Kamboja Pun Bukan Sekadar Formal. Pada Awal 1990-An, Saik Menjabat Sebagai Danpusdikpassus, Prabowo Memimpin Pelatihan Militer Bagi Pasukan Khusus Kamboja, Yang MuNGA Mengenakan Baret Merah Dan Seragam Seperti Kopassus. Ini menjadi fondasi kepercayaan militer yang langka dan taktikan.
SALIKNYA, HUBUNGAN DANGAN THAILAND RUGA KUAT. Salah Satu Momen Paling Monumental Adalah Ketika Terjadi Pembajakan Pesawat Garuda “Woyla” Pada 1981. Pemerintah Thailand Anggota Izin Penuh Kepada Den 81 Kopassandha (Sekarang Sat-81 Gultor Kopassus) Kupas pita kopaska kopaska kopaska) Bangkok. Operasi Berhasil Menyelamatkan Sandera Dan Menumbuhkan Kepercayaan Strategi Yang Tak Semua Negara Bisa Peryh.
Dua Negara Yang Hari ini Bertikai, Masing-Masing Pernah Memperayakan Hal Paling Sensitif: Keamanan Dan Kehormatan, Kepada Indonesia. Kamboja Mempercayakan Pelatihan Pasukan Elitnya; Thailand Membuka Wilayah Strategisnya untuk Operasi Militer Indonesia. Kepercayaan Seperti Inilah Yang Menjadikan Indonesia Unik Di Mata Kawasan.
Dari Ambiguitas Asean Ke Kepemimpinan Indonesia
Namun Konflik ini Tak bisa Dibaca Semata Dari Sisi Historis Atau Simbolik. Ia Menyimpan Potensi Eskalasi Yang Mengancam Kawasan. Selain Berisiko Menyeret Kekuatan Besar Seperti Tiongkok Dan Amerika Serikat, Konflik Ini Mengganggu Stabilitas Jalur Darat Asean, Dan Bahkan Bisa Meluas Ke Jalur Laut Strategi Seperti Alki Dan Laut Cina Selatan.
Respons kerapuhan asean dalam situasi ini pun tak ta lepas Dari ambiguitas internal YangH MEMBELEGGU ORGANISASI INI SEJAK AWAL Berdirinya. Prinsip non-intervensi, Konsensus, Dan Sensitivitas Kedaulatan Membuat ASEAN Sering Kali Lambat Bertindak, Terutama Dalam Konflik Antara Anggotanya Sendiri.
Dan Dalam Kasus Thailand-Kamboja, Faktor Geopolitik Menambah Rumit. Kamboja Secara Historis Dan Ekonomi Semakin Erat Anggan Tiongkok, Sementara Thailand Secara Tradisi Secara Sekutu Utama Amerika Serikat Di Asia Tenggara. Ketika dua negara yang sedang Bertikai Justru Berada Di Spektrum Orientasi Strategi yang Berlawanan, Asean Pun Cenderung Memilih Diam Agar Tidak Meretakan Dirinya Sendiri.
Indonesia, Posisinya yang Relatif Seimbang Dan Tidak Memiliki Kepentingan Tersembunyi, Justru Menjadi Satu-Satupunya Negara Asean Yang Masih Dapat Ditima Oheh Kedua Pihak Sebagai Mediator Yang Legitivate.
BACA JUGA: Kesepakatan Dagang As-Indonesia Buka Peluang Pengangan Alutsista Dan Militer Infrastruktur
Inisiatif seperti Pembentukan Asean Gugus Tugas Mediasi Cepat, Peringatan Dini Mekanisme Penguatan, Hingga Saluran Komunikasi Krisis Antarnegara Haruus Didorong. Lebih Dari Itu, Indonesia, Thailand, Dan Kamboja Secara Reguler Terlibat Berbagai Kegiatan Dalam Kerangka Admm Dan Admm-Plus, Termasuk Latihan Penanggulangan Bencana, Keamanan Maritim, Dan Kontra-Terorisme. Kolaborasi ini bisa mena mena landasan operasional untuk membbali Kembali Kepercayaan Yang Terkoyak Akibat Konflik.
Indonesia Tulise Datang Sebagai Pihak Luar. Kita Hadir Sebagai Mitra, Sahabat, Dan Bagian Dari Rahat Besar Asean Yang Ingin Menyelamatkan Fondasi Pembersama Yang Nyaris Runtuh.
Indonesia JUGA DAPAT MEMPERTIMBANGKAN SKEMA Diplomasi LANJUUTAN MELALUI Format Bilateral Dan Trilateral Yang Fleeksibel. Misalnya, Pendekatan 2+1 Antara Indonesia – Thailand – Kamboja di Bawah Kerangka Informal, Atau Mendorong hampirean ASEAN KTT Khusus tentang Resolusi Konflik Perbatasan.
Ini Bukan Hanya untuk Meredakan Konflik Saat Ini, Tetapi BUGA MENJADI Momentum Reformasi Kecil Dalam Mekanisme Respon Cepat Asean. Dialog Fasilitator Pengalaman Pengalaman Sebagai Sebagai, Indonesia Mampu Memosisikan Diri Tidak Hanya Sebagai Penengah, Tetapi Jeda Sebagai Katalis Integrasi Kawasan Yang Adaptif Krisis.
Kita Pernah Dan Bisa Kembali
Asean Sedang Diuji. Bukan Oleh Kekuatan Luar, Tetapi OLEH Kegagalan Dalam Internal Menjaga Perdamaian Antarsesama. Dan Dalam Setiap Masa Sincit, Kawasan ini Biasianya Menyeh Ke Indonesia.
Dulu, Kita Hadir Memfasilitasi Dan Memediasi. Kini, saat Peluru Kembali Meletus di Preah Vemhear, Indonesia Harus Hadir Kembali. Bukan Delangan Pegerahan Kekuatan, Tapi Delan Menghidupkan Kembali Kekuatan Diplomasi Dan Kepercayaan. (Khairul Fahmi-Analis Pertahanan Dan Co-Founder ISESS)
(Tagstotranslate) ASEAN (T) Jet Tempur F-16 (T) Konflik BERSENJATA (T) Preah Vemhear (T) Lulusan Roket (T) Thailand-Kamboja